1. Jendral Sudirman
Jenderal Soedirman merupakan sosok yang sangat sederhana. Ia menyatu dengan para prajurit saat bergerilya melawan belanda, bahkan tidak menampakan diri bahwa ia adalah seorang Panglima Besar. Jenderal Soedirman memiliki saejumlah sifat unggul yang seharusnya bisa ditiru generasi muda yaitu semangat nasionalisme yang tinggi, disiplin, ulet dan pantang menyerah. Selain itu juga memiliki ketaqwaan dan keimanan yang tinggi. "Pak Dirman (Soedirman) itu disiplin sejak muda, sebelum masuk dalam militer ia sudah aktif di Kepanduan Hizboel Wathon (pembela tanah air)
Sumber: https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/nasional/read/2008/11/10/19205186/jenderal-soedirman-sosok-sederhana-pantang-menyerah
2. Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia yang telah mempelopori pendidikan untuk pribumi dari mulai penjajahan belanda ini. Ki Hajar mempelopori pendidikan dengan mendirikan sekolah dengan nama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa yang sekarang lebih dikenal dengan nama Tamana Siswa. Taman siswa sangat terkenal hingga sekarang yaitu : “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mbangun karso, tut wuri handayani” (“di depan menjadi teladan, di tengah membangkitkan semangat, dari belakang mendukung”).
Sumber: https://www.google.com/amp/s/habibullah88.wordpress.com/2012/09/22/3-pandangan-hidup-ki-hajar-dewantara-yang-menjadi-semboyan-taman-siswa/amp/
3. R.A Kartini
R.A Kartini seorang tokoh pejuang, pelopor kemajuan dan pendobrak keterbelakangan kaum wanita. Dia seorang figur wanita yang dalam perjalanan hidupnya menjadi teladan bagi kaumnya, dalam upaya keluar dari kungkungan keterbelakangan. Kartini berjuang untuk keluar dari tradisi yang membelenggu, meraih kedudukan sejajar dengan kaum pria dalam memperoleh hak-hak dan menjalankan kewajibannya. Dalam pandangan Kartini, kaum perempuan harus mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya agar bisa menjadi pendidik yang utama bagi anak-anaknya. Menurut Kartini, wanita harus berjuang untuk mendapatkan martabat yang sejajar dengan kaum pria. Wanita harus dididik dan dicerdaskan agar hati dan pikirannya terbuka, karena Tuhan menjadikan perempuan dan laki-laki sebagai makhluk yang memiliki derajat dan martabat yang sama. Hal ini dikenal sebagai cita-cita memperjuangkan emansipasi wanita. Kartini ingin mengubah kedudukan perempuan, dengan memberi kesempatan dan kebebasan untuk menuntut ilmu dan diberi hak memangku jabatan dalam masyarakat. Dalam pandangan Kartini, apabila kaum wanita berpendidikan, ia akan lebih cakap dalam mendidik putra-putrinya dan mengurus rumah tangganya. Dan pengaruh lebih lanjut adalah akan memajukan bangsanya.
Sumber: http://bpt.sragenkab.go.id/berita/2012/04april/kartini_part1.html
4. Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro dikenal secara luas karena memimpin Perang Diponegoro atau disebut sebagai Perang Jawa karena terjadi di tanah Jawa. Perang ini merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara. Pangeran Diponegoro membulatkan tekad untuk melakukan perlawanan dengan membatalkan pajak Puwasa agar para petani di Tegalrejo dapat membeli senjata dan makanan. Kekecewaan Pangeran Diponegoro juga semakin memuncak ketika Patih Danureja atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak untuk membuat rel kereta api melewati makam leluhurnya. Beliau kemudian bertekad melawan Belanda dan menyatakan sikap perang.
Sumber: https://ditsmp.kemdikbud.go.id/pangeran-diponegoro-dalam-melawan-penjajahan-di-tanah-jawa/
5. KH Hasyim Asyari
KH. Hasyim Asy'ari merupakan salah satu tokoh ulama besar yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Dalam pendidikan beliau tidak hanya sekedar membangun pondok pesantren Tebuireng. Setelah mendirikan pondok beliau mewarnai lembaga pendidikannya dengan pandangan metodologi tradisional. Dalam pengembangannya, beliau banyak mengadopsi pendidikan islami klasik yang mengedepankan aspek-aspek normatif, tradisi belajar mengajar dan etika dalam belajar. Pemikiran KH. Hasyim Asy'ari dalam pendidikan lebih menekankan pada etika dalam pendidikan. Dalam hal ini banyak dipengaruhi dengan keahliannya di bidang hadits. Juga searah dengan pemikiran al-Ghazali yang lebih menekankan pada pendidikan rohani. Misalnya belajar dan mengajar harus dijalani dengan hati yang ikhlas, semata-mata hanya karena Allah bukan sebab urusan dunia melainkan juga untuk kebahagiaan di akhirat kelak. Dan untuk mencapainya seseorang yang belajar atau mengajar harus memiliki etika, memiliki adab dan moral baik murid maupun guru sendiri.
Sumber: https://www.google.com/amp/s/www.kompasiana.com/amp/ulfasaadah/5e86d765097f3632c07cded2/sejarah-kehidupan-dan-pemikiran-kh-hasyim-asy-ari-dalam-pendidikan-islam
Komentar
Posting Komentar